Rabu, 22 November 2017

EKSISTENSI PENDIDIKAN, PEMEGANG PERAN MASA DEPAN BANGSA



Menelaah data tentang tren prestasi siswa yang menunjukkan bahwa pada tahun 2011, peringkat anak-anak Indonesia bertengger di posisi 38 dari 42 negara untuk prestasi matematika, dan menduduki posisi 40 dari 42 negara untuk prestasi sains. Rata-rata skor prestasi matematika dan sains berturut-turut adalah 386 dan 406, masih berada signifikan di bawah skor rata-rata internasional.

Data diatas diteliti oleh Third In International Mathematics Science and Study (TIMSS) pada tahun 1999 hingga 2011. TIMSS adalah rangkaian studi internasional untuk melihat prestasi matematika dan sains siswa sekolah lanjutan tingkat pertama yang dilakukan empat tahun sekali sejak tahun 1995, yang dibentuk oleh sebuah institusi independen International Association for the Evaluation of Educational Achievement ( IEA ) yang berkedudukan di Amsterdam Belanda.

Bagi Indonesia, bagaimana peringkat prestasi siswa Indonesia pada tahun 1999, 2003, dan 2007? Apakah sempat terjadi peningkatan? Data kembali menunjukkan pada tahun 1999, 2003 dan 2007, posisi prestasi matematika siswa Indonesia secara berturut-turut bertengger di posisi 34 dari 38 negara (skor 403), 35 dari 46 negara (skor 411), 36 dari 49 negara (skor 397). Serta untuk sains siswa Indonesia bercokol di posisi 32 dari 38 negara (skor 435), 37 dari 46 negara (skor 420), dan 35 dari 49 negara (skor 427). Selama hampir 10 tahun, prestasi Indonesia dalam matematika dan sains tidak beranjak naik dan berubah menjadi lebih baik. Dimana sebenarnya titik lemah pendidikan kita?

Kita bisa mengambil contoh dari kebijakan pemerintah yang diambil dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Kurikulum 2013 misalnya. Kurikulum ini telah dijalankan di sebagian sekolah di Indonesia sejak tahun ajaran 2013/2014. Bisa dibilang sebagian sekolah yang menerapkan kurikulum ini sejak tahun 2013 adalah sekolah yang diikutkan masa percobaan kurikulum 2013 untuk mematangkan kurikulum.

Yang mengherankan adalah, setelah satu tahun percobaan kurikulum, kurikulum 2013 ini belum matang namun diterapkan secara serentak di seluruh sekolah di Indonesia tahun 2014. Belum matangnya kurikulum dapat dilihat dari sulitnya mendapat buku paket serta sebagian besar guru-guru yang belum mendapat training terkait kurikulum ini.

Diterapkannya kurikulum ini di seluruh Indonesia menimbulkan masalah lain karena kurang siapnya sekolah untuk mengikuti kurikulum yang baru, selain itu kurikulum ini sendiri memang belum matang benar.

Dinas pendidikan akhirnya menghentikan kurikulum ini secara resmi bagi sekolah-sekolah yang baru menerapkannya selama satu semester, sedangkan bagi sekolah yang telah menerapkan kurikulum ini secara tiga semester, bisa melanjutkan.

Sekolah yang berhenti menerapkan kurikulum 2013, diharapkan kembali ke kurikulum 2006 (KTSP). Timbul masalah lain dari keputusan ini. Hal ini membuat bingung masyarakat serta sekolah. Para orang tua kebingungan mencari buku paket KTSP yang sebelumnya ditetapkan  sudah tidak berlaku. Sekolah pun dibuat bingung karena penerapan dua kurikulum berbeda, kurikulum 2013 dan KTSP tahun 2006.

Berkaitan dengan pendidikan, tak bisa dipungkiri bahwa jaman sekarang ini pendidikan adalah hal yang penting di tiap negara dan di tiap kalangan. Tanpa pendidikan, tidak akan ada perkembangan dalam sebuah negara. Setiap negara seharusnya dapat menyediakan pendidikan yang sebaik-baiknya bagi rakyatnya demi masa depan negara itu sendiri.

Kualitas pendidikan di Indonesia sendiri saat ini masih rendah dan cukup memprihatinkan. Di saat negara-negara lain—termasuk negara-negara di Asia—berlomba-lomba memperbaiki sistem pendidikannya, Indonesia masih bertahan di sistem pendidikan yang sama. Untuk itulah di Indonesia sistem pendidikan ditinjau berulang-ulang untuk semakin tepat dalam aplikasi dan sasarannya.

Disini pemerintah memiliki peran besar dalam memantau dan meningkatkan kualitas pendidikan. Penetapan sistem pendidikan yang baku dan tidak harus berubah tiap kali pergantian menteri harus bisa menjadi target pemerintah. Hal ini bisa memberikan kepastian bagi tiap pengajar dan sekolah. Sehingga tidak menimbulkan kebingungan dan harus beradaptasi kembali dengan kurikulum baru tiap kali ada pergantian menteri pendidikan.

IWA-2—International Workshop Agreement adalah panduan penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 bagi lembaga pendidikan. Panduan ini ditinjau setiap 3 tahun untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar sistem manajemen  mutu yang berlaku.

International Workshop Agreement-2 telah menerbitkan edisi keduanya pada tahun 2007 untuk menggantikan edisi sebelumnya yang dikeluarkan tahun 2003. Edisi kedua ini disusun oleh peserta workshop yang terdiri dari 47 orang ahli di bidang pendidikan dan penjaminan mutu, diantaranya terdapat guru, dosen, profesor, serta pengamat dan praktisi di bidang pendidikan. Hal ini memastikan bahwa IWA-2 dapat menjadi panduan yang tepat dan memadai bagi dunia pendidikan.

IWA 2:2007 ini dibuat dengan tujuan memudahkan lembaga pendidikan di tiap jenjang untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan efektif berdasarkan ISO 9001. Karenanya dengan adanya panduan ini akan memudahkan lembaga pendidikan untuk menerapkan ISO 9001.

Penerapan panduan IWA 2:2007 akan menutup kelemahan-kelemahan yang terdapat di sistem pendidikan Indonesia. Lewat 12 prinsip yang dimilikinya—8 prinsip utama dan 4 prinsip tambahan—IWA-2 menjamin terselenggaranya pendidikan dengan mutu yang tinggi.

Pertama, pendekatan proses. Hal ini berarti IWA-2 lebih menekankan pada proses karena hasil dari pendidikan tak dapat dilihat langsung hasilnya. Kedua, tenaga yang mendidik harus menguasai hal di bidangnya. Ketiga, proses yang dilakukan dalam belajar harus seoptimal mungkin. Keempat, menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki jiwa kepemimpinan yang bisa melihat jauh ke depan atau visioner. Kelima, tiap keputusan atau hasil yang ada harus didasarkan pada fakta bukan rasa suka atau tidak suka. Keenam, dapat berkolaborasi dengan rekannya. Ketujuh, seluruh individu dalam lembaga pendidikan harus bekerja bersama-sama agar terselenggara legiatan pembelajaran yang baik. Delapan, adanya proses pengembangan berkelanjutan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi peserta didik seiring perkembangan teknologi.

Selain 8 prinsip utama tersebut, IWA-2 memiliki 4 prinsip tambahan, yang pertama adalah menciptakan nilai tambah bagi para siswa, misalnya penanaman nilai berorganisasi lewat kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di sekolah. Kedua, fokus terhadap nilai-nilai sosial. Ketiga, kecerdasan yang memungkinkan para peserta didik dapat belajar secara mandiri dalam kondisi apapun. Keempat, kemandirian.

Prinsip-prinsip yang dimiliki IWA-2 ini tentu sangat dibutuhkan dalam aplikasi sistem pendidikan Indonesia yang kita kenal selama ini. Sistem pendidikan Indonesia lebih mementingkan hasil dibanding proses sedangkan IWA-2 mementingkan proses dan hasil dari proses yang dibentuk. Tidak ada aspek yang diabaikan.

Penerapan IWA-2 akan membawa perubahan signifikan terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Hasilnya tidak hanya dirasakan oleh peserta didik saja namun akan dirasakan oleh tenaga pendidik juga. Penerapan ini akan meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia, dan prestasi sains Indonesia akan menjadi kebanggaan bagi bangsa ini. SMPN 3 Balung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar